kti kebidanan 26

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG SENAM NIFAS DI RS MUHAMMADIYAH KOTA KEDIRI

BAB I
 
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil, masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Rustam, 1998). Dalam masa nifas alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti kadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genetalia ini dalam keseluruhannya disebut involusi (Sarwono, 2002)
Pada saat hamil, beberapa otot mengalami penguluran, terutama otot rahim dan perut (Mellyana, 2003). Dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya garis-garis putih dan hitam (strie gravidarum) yang dari sudut keindahan tubuh akan terasa sangat mengganggu. (Rustam, 1998). Setelah melahirkan, rahim tidak secara cepat kembali seperti semula tetapi melewati proses. Oleh karena itu, untuk mengembalikan ke kondisi semula diperlukan suatu senam yang dikenal dengan senam nifas. Senam nifas memberikan latihan gerak secepat mungkin agar otot-otot yang mengalami penguluran selama kehamilan dan persalinan kembali normal, seperti sebelum hamil sehingga terhindar dari segala perasaan yang kurang nyaman (Mellyana, 2003)
Manfaat senam nifas untuk mengencangkan otot perut, liang senggama, otot-otot sekitar vagina maupun otot-otot dasar panggul, selain memperlancar sirkulasi darah. Dengan melakukan senam nifas, kondisi umum ibu jadi lebih baik, rehabilitasi atau pemulihan jadi bisa lebih cepat. Selain menumbuhkan/ memperbaiki nafsu makan, hingga asupan makannya bisa mencukupi kebutuhannya. Paling tidak, dengan melakukan senam nifas, ibu tak terlihat lesu ataupun emosional. Senam nifas sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, lalu secara teratur setiap hari. (Dedeh, 2006)

1
Umumnya para ibu pasca melahirkan takut melakukan banyak gerakan, sang ibu khawatir gerakan-gerakan yang akan dilakukannya akan menimbulkan dampak yang tidak di inginkan. Padahal, apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisa memperlancar terjadinya proses involusi uterus (kembali rahim ke bentuk semula). (Salamah, 2003).  Menurut Hasnah umumnya wanita yang habis melahirkan kerap mengeluhkan bentuknya yang melar, belum lagi kondisi tubuhnya yang kurang prima lantaran letih dan tegang. Sementara peredaran darah dan pernapasan belum kembali normal, hingga untuk membantu  mengembalikan tubuh ke bentuk dan kondisi semula harus melakukan senam nifas yang teratur. (Dedeh, 2006)
Dari data observasi pada tanggal 2-27 Januari 2008, di RSUD Kertosono ruang nifas terdapat 18 ibu post partum dengan persalinan normal dan 12 pasien post SC. Dari 30 ibu nifas tersebut, yang mengetahui tentang senam nifas hanya   5 orang, bahkan ada 1 ibu post SC yang tidak turun dari tempat tidur + 5 hari, karena ibu takut untuk bergerak.
Data PKL tanggal 21 Februari 2008 di Desa Banjarejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri, ada 3 ibu nifas  yang tidak mengetahui tentang senam nifas, bahkan ada 1 ibu nifas yang oleh orang tuanya dilarang untuk bergerak, dan disuruh untuk memakai stagen agar perutnya mengecil, sehingga kaki ibu tersebut agak bengkak. Dari penelitian Susanti P. (2001) terhadap ibu nifas di RSU USD Gambiran, ibu yang memiliki tingkat pengetahuan tentang senam nifas tinggi ada 7 responden (70%). Dimana pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang
Studi pendahuluan yang dilakukan di ruang nifas RS Muhammadiyah Kota Kediri pada tanggal  5 April 2008, di dapatkan 7 ibu nifas. Dari 7 orang ibu nifas yang mengetahui  tentang senam nifas hanya 2 orang.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu post partum tentang senam nifas di Ruang nifas RS Muhammadiyah Kota Kediri.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ”Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu post partum tentang senam nifas di RS Muhammadiyah Kota Kediri?”

1.3    Tujuan Penulisan
1.3.1   Tujuan umum
Mengetahui gambaran pengetahuan ibu post partum tentang senam nifas
1.3.2   Tujuan khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang pengertian senam nifas.
1.3.2.2  Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang manfaat senam nifas.
1.3.2.3 Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang tujuan senam nifas.
1.3.2.4 Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang indikasi dan kontra indikasi untuk senam nifas.
1.3.2.5 Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang cara melakukan senam nifas.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan peneliti mengenai pengetahuan ibu post partum tentang senam nifas.
1.4.2 Bagi Institusi
Dapat digunakan sebagai bahan informasi dan pertimbangan untuk penelitian tentang senam nifas.

1.4.3 Bagi Lahan Praktek
Sebagai masukan informasi dan motivasi untuk bidan dan perawat yang berada di ruang nifas dalam pemberikan penyuluhan kepada ibu post partum tentang senam nifas
1.4.4 Bagi Responden
Dapat meningkatkan pengetahuan responden tentang senam nifas.

KTI KEBIDANAN 9

KTI Kebidanan  9 HUBUNGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN DENGAN MINAT AKSEPTOR KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULANAN UNTUK MELANJUTKAN KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULANAN DI DESA ABCDE

1.1 Latar Belakang
Anak-anak memang perlu kedisiplinan. Kedisiplinan bisa diraih tanpa adanya kekerasan, namun bukan berarti terlarang melakukan tindakan fisik. Kedisiplinan diperlukan untuk mendidik anak terbiasa terkait dengan standart-standart dalam berbagai aspek kehidupan sehingga mereka pada saatnya dapat bertanggung jawab. Kedisiplinan dibentuk dengan memberikan pemahaman yang melahirkan kesadaran untuk menerapkannya dan semua itu memerlukan proses. Penanaman disiplin pada anak bisa berhasil jika orang tua mengenal karakteristik anak dengan mampu membangun komunikasi serta hubungan yang harmonis dengan anak (Mukhtarlutfi , 2008 ). KTI Kebidanan
Berbagai kasus kekerasan mungkin sering dijumpai di lingkungan sekitar kita, bahkan mungkin tanpa kita sadari juga terjadi dalam rumah  sendiri. Tidak semua anak beruntung berada dalam asuhan sebuah keluarga, apalagi yang bisa mencukupi kebutuhan akan hak-hak dasariah, seperti jaminan kesehatan, pendidikan, kehidupan yang layak dan rasa aman. Bahkan belakangan makin marak saja terdengar kekerasan dan pelecehan terhadap anak. Pengaruh lingkungan, terutama orang – orang disekeliling, sangat besar terhadap tumbuh kembang anak. Lingkungan buruk hanya akan menghasilkan tingkah laku yang tidak jauh dari sifat buruk (Desi Natalliany, 2006).
Kasus – kasus kekerasan fisik pada anak sebetulnya sering terjadi namun jarang di ketahui karena tidak terpublikasi , kecuali korban sampai meninggal dunia . Kekerasan seksual misalnya perkosaan anak , belakangan banyak berita serupa di media massa bahkan pelakunya adalah keluarga sendiri sampai guru ngaji ( Desi Natalliany,2006).
KTI Kebidanan  Sangat sukar dipercaya bahwa orang tua yang melakukan penganiayaan terhadap anaknya sampai perlu dirawat di Rumah Sakit atau bahkan sampai meninggal dunia. Hal ini dapat disebabkan karena orang tersebut kurang dewasa dalam kontrol dirinya dan sangat impulsif dalam bertindak (Soetjiningsih, 1998).
Hasil laporan departemen sosial, di Indonesia tentang kasus anak yang mengalami tindak kekerasan pada tahun 2006 adalah 182.400 kasus, sedangkan data Pusdatin Komnas Perlindungan Anak memberikan gambaran adanya kecenderungan peningkatan baik jumlah maupun jenis kasus kekerasan terhadap anak (KTA) dalam waktu terakhir (2004-2006) (Nurhamidah, 2008:165).
Dari data yang di peroleh di Polresta Kediri pada Tanggal 3 Mei 2008  jumlah kasus kekerasan pada anak pada tahun 2007 sebanyak 13 kasus kekerasan pada anak sedangkan pada bulan Januari sampai Mei 2008 terdapat 2 kasus kekerasan pada anak di Kota Kediri .
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang kekerasan kepada anak usia 0-5 tahun di RT 3 RW 5 Kelurahan Semampir Kota Kediri adanya banyaknya anak gelandangan yang masih bertempat tinggal di rumah singgah.

1.2 Rumusan Masalah KTI Kebidanan
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah”Bagaimanakah Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu   Tentang Kekerasan Pada Anak Usia 0-5 Tahun di RT 3 RW 5 Kelurahan Semampir Kota Kediri?”.

1.3 Tujuan Penelitian KTI Kebidanan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tingkat pegetahuan ibu tentang kekerasan kepada anak usia 0-5 tahun di RT 3 RW 5 Kelurahan Semampir Kota Kediri.
1.3.2. Tujuan Khusus
Mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang :
1) Pengertian kekerasan  pada anak usia 0-5 tahun.
2) Bentuk kekerasan pada anak usia 0-5 tahun.
3) Klasifikasi kekerasan menurut usia
4) Pemicu kekerasan pada anak usia 0-5 tahun.
5) Dampak kekerasan pada anak usia 0-5 tahun.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan
Menambah informasi mengenai gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang kekerasan kepada anak usia 0-5 tahun di RT 3 RW 5 Kelurahan Semampir Kota Kediri.
1.4.2 Bagi tempat penelitian
Sebagai masukan yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang kekerasan kepada anak usia 0-5 tahun di RT 3 RW 5 Kelurahan Semampir Kota Kediri.
1.4.3 Bagi Peneliti
Memperoleh informasi dan wawasan mengenai gambaran tingkat pengetahuan tentang kekerasan kepada anak usia 0-5 tahun di RT 3 RW 5 Kelurahan Semampir Kota Kediri.
1.4.4 Bagi responden
Sebagai informasi yang dapat digunakan untuk menambah   wawasan bagi ibu mengenai bahaya akibat yang di timbulkan pada anak jika terjadi kekerasan KTI Kebidanan .

KTI Kebidanan 7

KTI Kebidanan 7 PERBEDAAN KECEMASAN PADA WANITA MENOPAUSE SEBELUM DAN SESUDAH HIPNOTERAPI DI  DESA PAKUNDEN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PESANTREN II KOTA KEDIRI

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

KTI Kebidanan Menopause bukanlah peristiwa yang terjadi secara mendadak. Ia merupakan proses yang berlangsung lama. Artinya, meskipun seorang perempuan mengalami haid yang berhenti sama sekali pada usia 50 tahun misalnya, ia mungkin sudah merasa bahwa siklus haidnya mulai berubah sejak ia berusia 40 tahun. Menstruasi itu benar–benar tidak datang lagi rata– rata seorang perempuan mencapai umur 50 tahun (dengan rentang antara 48 dan 52 tahun).

Secara medis seorang perempuan akan dinyatakan sebagai “telah mengalami menopause“ jika selama setahun tidak pernah sama sekali haid lagi (Titi Irawati, 2007). Berhentinya siklus menstruasi dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah tidak dapat melahirkan anak lagi. Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak berharga, tidak berarti dalam hidup sehingga muncul rasa khawatir akan adanya kemungkinan bahwa orang-orang yang dicintainya berpaling dan meninggalkannya. Perasaan itulah yang sering kali dirasakan wanita pada masa menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan (Admin Setyo P, 2008).

KTI Kebidanan Menurut Fajar (2003), tidak ada angka pasti wanita menopause di Indonesia, tetapi diperkirakan sekitar 10% dari jumlah wanita. (Ika, 2003).
Menurut Kartono (1992) perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause dapat menimbulkan sikap yang berbeda-beda, diantaranya yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis seperti depresi, mudah tersinggung, mudah menjadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomnia atau tidak bisa tidur, karena sangat bingung dan gelisah (Admin Setyo P, 2008).

Lebih kurang 70% wanita peri dan pascamenopause mengalami keluhan vasomotorik, depresif, dan keluhan psikis dan somatik lainnya. Berat atau ringannya keluhan berbeda-beda pada setiap wanita. Keluhan-keluhan tersebut mencapai puncaknya sebelum dan sesudah menopause, dan dengan meningkatnya usia, keluhan-keluhan tersebut makin jarang ditemukan. (Ali, 2003). KTI Kebidanan

Berbagai cara penanganan dan pencegahan pada keluhan yang timbul pada menopause seperti pengaturan makanan, olah raga yang cukup, pemberian terapi hormon pengganti dan pengelolaan diri akan memberikan warna baru bagi seorang wanita dalam menjalankan kehidupannya. Dewasa ini pengelolaan diri sangatlah penting dalam pencapaian proses penyembuhan. Bentuk pengelolaan diri ini dapat ditempuh dengan banyak cara seperti berdoa, meditasi kesehatan dan yoga, termasuk di dalamnya adalah dengan menggunakan metode hipnosis/hipnoterapi (Stephanus P Nurdin, 2006).
Menurut Stepanus, dokter dari RSIA Budhi Jaya Jakarta Selatan (2006), perempuan menopause dapat menjalani hipno-menopause terapi.

KTI Kebidanan Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien ini bertujuan membuka kesadaran klien untuk mengetahui masalah utama sebagai dampak menopause dan membantu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dirinya sendiri. Pasien jadi merasa lebih nyaman dan dapat menerima kondisinya, lebih percaya diri, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari (Evy Rachmawati, 2006).

Dari hasil studi pendahuluan di Desa Pakunden Wilayah Kerja Puskesmas Pesantren II Pesantren pada tanggal 15 April 2008 didapatkan jumlah wanita menopause yang datang saat posyandu lansia sebanyak                 19 orang dan 7 diantaranya memperhatikan perubahan penampilan pada dirinya. Perubahan penampilan itu sendiri merupakan faktor penyebab kecemasan.  Dari data di atas, peneliti ingin mengetahui adakah perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi di Desa Pakunden Wilayah Kerja Puskesmas Pesantren II Pesantren Kota Kediri.

1.2 Rumusan Masalah KTI Kebidanan

Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Adakah perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi?

1.3 Tujuan Penelitian KTI Kebidanan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1    Mengidentifikasi kecemasan pada wanita menopause sebelum hipnoterapi.
2    Mengidentifikasi kecemasan pada wanita menopause sesudah hipnoterapi.
3    Menganalisa     perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi.

1.4 Manfaat Penelitian KTI Kebidanan
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan tentang perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi.
1.4.2 Bagi Responden
Menambah pengetahuan wanita menopause tentang adanya hipnoterapi yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan pada wanita menopause.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Memberikan informasi adanya teknik hipnoterapi yang dapat digunakan untuk penatalaksanaan pada wanita menopause.
1.4.4 Bagi Institusi
Menambah pemahaman dosen dan mahasiswa Prodi Kebidanan Kediri tentang perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya KTI Kebidanan.

KTI Kebidanan 5

KTI Kebidanan 5 HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI DENGAN MINAT IBU DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA  BAYI USIA 0 – 6 BULAN DI DESA MENANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAGU  KABUPATEN  XYZ

1.1 Latar Belakang  KTI Kebidanan

KTI Kebidanan Masa menyusui merupakan masa yang sangat membahagiakan bagi ibu dan bayi. Ketika bayi menghisap ASI melalui puting susu, rasa kehangatan dan kasih sayang ibu akan tercurah pada sibuah hati (Diah, 2000). ASI mengandung banyak faktor non nutrisi yang membantu melindungi dan merawat bayi selama bulan-bulan pertama kehidupan (Moody, 2006). Pemberian ASI berarti memberi zat-zat gizi yang bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan otak, memberikan zat – zat kekebalan terhadap penyakit dan ikatan emosional antara ibu dan bayinya (www.ghozansehat, 2007).

Seorang ibu dikodratkan untuk dapat memberikan air susunya kepada bayi yang telah dilahirkannya, dimana kodrat ini merupakan suatu tugas yang mulia bagi ibu itu sendiri demi keselamatan dari bayi dikemudian hari (Manuaba, 1998).Sejak seorang wanita memasuki kehidupan keluarga, padanya harus sudah tertanam suatu keyakinan : ”Saya harus menyusui bayi saya, karena menyusui adalah realisasi dari tugas yang wajar dan mulia dari seorang ibu “. Sayang sekali keyakinan diatas, khususnya di kota-kota besar, terlihat adanya tendensi penurunan pemberian ASI, yang dikhawatirkan akan meluas ke pedesaan  (Soetjiningsih, 1997).

KTI Kebidanan Menurut WHO  pemberian ASI Eksklusif 6 bulan disejumlah kota besar di Indonesia ternyata masih rendah. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannya hanya 25 % – 80 %. Menurut Dinas Kesehatan Kota Kediri, pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannya di Jawa Timur tahun 2007 hanya 42,6% (Dinas Kesehatan, 2007). Lebih buruk lagi di daerah kumuh perkotaan (Jakarta, Makasar, Surabaya), pemberian itu hanya sampai 40 %. Bahkan ada bayi yang baru berumur 2 minggu sudah diberikan makanan lain. Proporsi pemberian ASI pada bayi kelompok usia 0 bulan sebesar 73,1 %, 1 bulan 55,5 %, 2 bulan     43 %, 3 bulan 36 % dan kelompok usia 4 bulan 16,7 %. Dengan bertambahnya usia bayi terjadi penurunan pola pemberian ASI sebesar 1,3 kali atau sebesar 77,2 %. Menurut hasil data Survey Sosial Ekonomi Nasional tahun 2006 di Kediri  hanya  12,50 % pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannaya (Badan Pusat Statistik, 2006).

Hal ini kemungkinan karena ibu – ibu dalam masa kini banyak melakukan kegiatan untuk memperoleh tambahan pendapatan keluarga. Dengan adanya peningkatan iklan susu buatan yang secara gencar memasarkan produk susunya ( www.tempo.co.id/medika ). Maka ibu dengan bertambahnya pendapatan keluarga atau status sosial ekonomi tinggi, ibu lebih berminat untuk pemberian susu botol dan melupakan kodratnya untuk memberikan air susunya. Hal ini memberikan adanya  hubungan antara pemberian ASI dengan sosial ekonomi ibu dimana ibu yang mempunyai sosial ekonomi rendah mempunyai peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI dibanding dengan sosial ekonomi tinggi KTI Kebidanan (www.ridwanamirruddin.wardpress.com.2007).

Berdasarkan PKL pada tanggal 10 Maret-29 Maret 2008 di Desa Menang, wilayah kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri terdapat 72 bayi berusia 0-12 bulan. Yang mendapat ASI Eksklusif ada 52 bayi atau sebesar 72%. Sedangkan dari 34 bayi yang berusia 0-6 bulan, jumlah ibu yang menyusui bayinya ada 14 orang atau sebesar 41%. Hal ini belum sesuai dengan target yang diharapkan oleh Departemen Kesehatan RI dimana ditargetkan pada tahun 2005 80 % wanita di Indonesia sudah memberikan ASI Eksklusif.

KTI Kebidanan Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai hubungan tingkat ekonomi dengan minat ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Menang Wilayah Kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri.

 

1.2 Rumusan Masalah   KTI Kebidanan

Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan : “Adakah hubungan tingkat ekonomi dengan minat ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Menang Pagu Kabupaten Kediri ?”

1.3 Tujuan    KTI Kebidanan

1.3.1   Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara tingkat ekonomi dengan minat ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Menang Wilayah Kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri.

1.3.2 Tujuan Khusus KTI Kebidanan

  1.  Mengidentifikasi tingkat ekonomi ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan di Desa Menang Wilayah Kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri.
  2. Mengidentifikasi minat ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Menang Wilayah Kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri.
  3. Menganalisis tingkat ekonomi dengan minat  ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Menang Wilayah Kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri KTI Kebidanan.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Peneliti

Menambah wawasan peneliti mengenai hubungan tingkat ekonomi dengan minat ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan KTI Kebidanan.

1.4.2 Bagi Institusi 

Sebagai bahan pertimbangan penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan hubungan tingkat ekonomi dengan minat ibu dalam pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan.

1.4.3 Bagi Tempat Peneliti 

Hasil penelitian dapat menjadi masukan atau evaluasi pada Desa Menang wilayah kerja Puskesmas Pagu Kabupaten Kediri sehingga dapat menindak lanjuti hasil penelitian ini KTI Kebidanan.

 

KTI Kebidanan 4

KTI Kebidanan 4 GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA PEKERJA SEKS KOMERSIAL TENTANG PEMERIKSAAN PAP SMEAR  DI EKS LOKALISASI KELURAHAN SEMAMPIR  KOTA KEDIRI

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang KTI Kebidanan

Jumlah terbesar wanita yang diperdagangkan di seluruh dunia berasal dari Asia. Perkiraannya berkisar dari 250.000 – 400.000 (30 %) dari angka perkiraan global. (http://www.Unicef.org/Indonesia/id/factsheet-CSEC Trafficking-indonesia-bahasa-indonesia.pdf:2008). Menurut Departemen Kesehatan RI, sebanyak 129.000 perempuan Indonesia merupakan pekerja seks komersial dibawah umur 18 tahun. Sementara data Badan Pusat Statistik menyebutkan 34,2 % perempuan Indonesia kawin muda dibawah 18 tahun.

KTI Kebidanan Berdasarkan kenyataan ini, kementrian urusan peranan wanita T.B Rachmat Santika menyimpulkan kawin muda yang banyak terjadi di Jawa Timur merupakan pemicu meningkatnya perdagangan perempuan (http://iwansains.wordpress.com:2007)  Perempuan diperdagangkan sebagai pekerja seks komersial. Dilihat dari aktifitasnya dan sering berganti pasangan berisiko tinggi tertularnya penyakit hubungan seksual yang dapat merangsang servik mengalami perubahan dan mengundang kanker dan dapat memicu timbulnya kanker servik. Kanker servik dapat ditanggulangi sejak dini jika ada deteksi awal, namun sayangnya masyarakat banyak yang tidak menyadari dan enggan untuk memeriksakan organ–organ yang rentan terkena kanker dan ini mengakibatkan peningkatan kejadian kanker servik. (http://www.indomedia.
com/bpost/022004/1/b-bungas/bungas5.htm:2004).

KTI Kebidanan Suatu penelitian yang dilakukan oleh ahli psikologi Alison Bish menemukan bahwa diantara para wanita yang menyadari bahwa tes tersebut menyelamatkan jiwa tetapi para wanita tersebut masih enggan untuk melakukan pemeriksaan pap smear (Evennett, Karen. 2003 : 11). Beberapa wanita yang khawatir mengenai kejadian kanker dengan sukarela serviks mau mengikuti pemeriksaan pap smear. (Evennett, Karen, 2003 : 8).
Kanker mempunyai insiden yang tertinggi di negara berkembang dan di Indonesia khususnya. Frekuensi relatif di Indonesia adalah 27% berdasarkan data patologik atau 16 % berdasarkan data rumah sakit. Lebih dari tiga perempat kanker ginekologik di RSCM adalah kanker serviks dan 62% diantaranya dengan stadium lanjut (stad II-III ) dan ia merupakan penyebab kematian kanker ginekologik yaitu 66% (FKUI, 2000 : 97).
Sedangkan Insiden kanker servik di Kota Kediri juga menempati urutan tertinggi dari semua jenis kanker. Dari berbagai laporan rumah sakit di Kediri tahun 2004 ditemukan 165 penderita kanker servik sedangkan tahun 2005 naik 170 penderita kanker servik (Laporan Dinkes dan PKTP Kota Kediri, 2006).
Gambaran yang paling akhir yang ada untuk kanker servik memperlihatkan bahwa sebanyak 4467 kasus. Sekitar 1800 kasus berakhir fatal. Dari keseluruhannya 85% dari wanita yang menderita kanker servik tidak pernah melakukan pap smear (Evennett, Karen, 2003 : 7).
KTI Kebidanan Pap smear sering kali belum mendapat prioritas dalam hidup kita, padahal departemen kesehatan RI menganjurkan bahwa semua wanita berusia 20-60 tahun harus melakukan pap smear paling tidak setiap lima tahun (Evennett, Karen, 2003: 3-4).
Akan tetapi masih banyak wanita yang kurang memperhatian tentang kesehatan diri, salah satu faktor penyebab mengapa wanita tidak mau melakukan pemeriksaan pap smear adalah Rasa takut dan malu begitu tebal dalam diri mereka sehingga sanggup mengabaikan risiko yang mungkin akan dihadapi. (http://www.sabah.org.my/bm/nasihat/wanita/papsmear .htm)
KTI Kebidanan Dari studi pendahuluan pada tanggal 03 Maret 2008, dari wawancara yang dilakukan dengan ketua RW yang mengelo Lokalisasi pada tahun 2007 didapatkan hanya 3 orang dari 220 wanita pekerja seks komersial yang melakukan pemeriksaan pap smear. Pada saat ini jumlah Pekerja Seks Komersial di eks Lokalisasi Kelurahan Semampir Kota Kediri sebanyak 200 orang. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 4 april 2008 dengan 14 wanita pekerja seks komersial yang melakukan pemeriksaan di klinik “Seroja” ternyata belum ada yang melakukan pemeriksaan pap smear, padahal sudah di beri penjelasan oleh petugas kesehatan di klinik tersebut tentang pentingnya pemeriksaan pap smear.
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan wanita pekerja seks komersial tentang pemeriksaan Pap Smear di eks Lokalisasi Kelurahan Semampir Kota Kediri KTI Kebidanan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan yaitu “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Tentang Pemeriksaan Pap Smear di eks Lokalisasi Kelurahan Semampir Kota Kediri ?”

1.3 Tujuan Penelitian KTI Kebidanan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran pengetahuan wanita pekerja seks komersial tentang pemeriksaan pap smear di eks Lokalisasi Kelurahan Semampir Kota Kediri.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1     Mengidentifikasi pengetahuan wanita Pekerja Seks Komersial tentang pengertian pemeriksaan pap smear.
1.3.2.2     Mengidentifikasi pengetahuan wanita Pekerja Seks Komersial tentang tujuan pemeriksaan pap smear.
1.3.2.3     Mengidentifikasi pengetahuan wanita Pekerja Seks Komersial tentang manfaat pemeriksaan pap smear.
1.3.2.4     Mengidentifintankasi pengetahuan Pekerja Seks Komersial tentang keuntungan pemeriksaan pap smear.
1.3.2.5     Mengidentifikasi pengetahuan Pekerja Seks Komersial tentang frekuensi pemeriksaan pap smear.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1    Bagi Peneliti Sebagai pengalaman nyata membuat KTI yang memberikan gambaran pada peneliti tentang pengetahuan pekerja seks komersial tentang pemeriksaan pap smear.
1.4.2    Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah informasi bagi mahasiswa agar dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya.
1.4.3    Bagi Tempat Penelitian Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pengetahuan wanita pekerja seks komersial tentang pemeriksaan  pap smear KTI Kebidanan.

KTI Kebidanan

KTI Kebidanan Gambaran Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto ABCDE

1.1 LATAR BELAKANG KTI Kebidanan

KTI Kebidanan Setiap kehamilan dimulai dengan tindakan seksual. Lalu mengapa sekarang hal yang merupakan penyebab dari keadaan hamil ini malah menjadi masalah besar? Hampir setiap pasangan selama sembilan bulan akan mengalami beberapa perubahan dalam hubungan seksual mereka, terlepas dari apakah perubahan itu berupa sama sekali tidak adanya hubungan seksual atau menjadi sedikit tidak nyaman atau malah lebih baik dari biasanya (Eisenberg A, 1998).

KTI Kebidanan Selain perubahan fisik , wanita yang sedang hamil biasanya memiliki perubahan kebutuhan akan perhatian dan keintiman dalam hubungan dengan pasangannya. Dari sisi emosional, wanita hamil lebih sensitive dan keintiman sudah bisa mereka rasakan lewat sentuhan atau sekedar bicara berdua dengan pasangan di tempat tidur sambil berpegangan tangan (Bibilung, 2007 ).

Kehamilan bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan seksual. Beberapa penelitian membuktikan bahwa hubungan seksual selama kehamilan tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keguguran atau kelahiran premature. KTI Kebidanan Hubungan seksual dapat dilakukan dengan aman sejak terbentuknya janin sampai dengan mulainya saat persalinan, asalkan kehamilan berjalan normal (Close S, 1998). Selain itu hubungan seks ataupun orgasme tidak berbahaya untuk bayi karena adanya lendir dari servik (mulut rahim) dari ibu yang membantu melawan tentang kuman / infeksi yang akan masuk ke dalam pintu rahim (Suririah, 2004).
Sebagian perempuan merasa takut melakukan hubungan seksual selama kehamilan beberapa merasa gairah seksualnya menurun karena tubuh mereka melakukan banyak penyesuaian tentang bentuk kehidupan baru yang berkembang di dalam rahim mereka (Suririah, 2004). Sementara itu gairah dan respon seksual sebelum kehamilanpun sudah sangat bervariasi. Walaupun ada perbedaan antara satu dan pasangan dengan pasangan lainnya, pola naik turunnya minat seksual pada umumnya sama selama tiga trimester kehamilan (Eisenberg A, 1998). KTI Kebidanan
Pada trimester ketiga atau mendekati persalinan libido menurun kembali sehingga minat ibu untuk melakukan hubungan seksual menurun. Hal ini disebabkan beberapa alasan antara lain: rasa nyaman sudah jauh berkurang, pegal di punggung dan pinggang, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung) dan kembali merasa mual namun semua itu adalah hal yang normal (Suririah, 2004).

KTI Kebidanan Pada satu kelompok wanita, hanya 21% yang tidak mengalami atau sedikit mengalami kenikmatan seks sebelum kehamilan. Presentasi wanita yang tidak mengalami kenikmatan seksual ini meningkat menjadi 41% pada minggu ke 12 kehamilan dan 59% pada memasuki bulan kesembilan. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa pada minggu ke 12 kehamilan, kira-kira 1 dari 10 pasangan sama sekali tidak melakukan hubungan seksual memasuki bulan kesembilan, sepertiganya menjalani pantang seksual (Eisenberg A, 1998).
KTI Kebidanan Berdasarkan studi pendahuluan di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri, pada tanggal 1-14 April ini terdapat 20 orang hamil trimester III  dan pada tanggal 10 April didapatkan 3 orang ibu hamil trimester III yang datang periksa. Dari 3 orang tersebut, 1 diantaranya masih mau melakukan hubungan seksual dan 2 diantaranya sudah tidak melakukan hubungan seksual sejak usia kehamilan 8 bulan karena ibu takut dapat melukai bayinya dan dapat melahirkan lebih dini selain itu salah satu suami dari 2 orang tersebut masih menginginkan hubungan seksual sedangkan ibunya sudah tidak mau, hal itulah yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam keluarga.
Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dangan judul Gambaran Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan KTI Kebidanan.

1.2 RUMUSAN MASALAH KTI Kebidanan
Dari latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah     “Bagaimana sikap ibu hamil tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny.  Katminah Mojoroto Kediri?”

1.3 TUJUAN
1.3.1 Khusus KTI Kebidanan
1.3.1.1 Mengidentifikasi sikap kognitif dari ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan.
1.3.1.2 Mengidentifikasi sikap afektif dari ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan.
1.3.1.3 Mengidentifikasi sikap konatif dari ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan.
1.3.2 Umum
Untuk mengetahui gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan  seksual selama kehamilan.

1.4 MANFAAT KTI Kebidanan
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan peneliti mengenai sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan.
1.4.2 Bagi Tempat Penelitian KTI Kebidanan
Sebagai bahan masukan untuk menindaklanjuti dari hasil penelitian sehingga dapat dibuat perencaaan yang berhubungan dengan sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan KTI Kebidanan
Sebagai bahan pertimbangan penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan KTI Kebidanan.